Otak-atik Kehidupan #2

Posted: Sabtu, 23 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Hello again. Udah kangen belum? Belum lah, orang tiap hari post haha. Sebelumnya, aku mau tanya dong. Ada gak sih orang disekitarmu yang cuek atau gak peduli sama lingkungan sekitar? Kalo ada, sebel gak? Kalo sebel, berarti kita sama. Tapi kita belum tentu jodoh ya. Oke, kali ini aku bakalan bahas tentang orang yang cuek/tidak peduli lingkungan sekitar. Here we go, selamat membaca.

(Disuatu taman)
Cewek : “Jadi orang itu yang peka!”
Cowok : “Dasar cewek semua sama aja, penuh kode. Kalo pengen sesuatu itu bilang, jangan kode. Aku bukan barcode!”

Yakk, sering kan denger atau baca percakapan semacam ini? Sebenernya bukan masalah dia cewek atau cowok, tapi kita memang harus peka terhadap sesuatu. Apa sesuatu itu? Lingkungan sekitar. Yap! Dewasa ini, banyak sekali orang yang hanya peduli dengan diri sendiri. Ada yang sibuk dengan tugas sekolah, ada yang sibuk dengan hobinya, ada yang sibuk dengan rapat organisasi, dan sibuk-sibuk lainnya. Hingga kita tidak sadar bahwa itu semua membuat kita anti-sosial. Kok bisa anti-sosial kalo sibuknya karena organisasi gimana? Ya tetap anti-sosial. Bukan karena kamu anak organisasi, kamu sudah terhindar dari cap anti-sosial. Kamu sibuk dengan organisasimu saja, kamu berinteraksi dengan anak organisasi saja, apa kamu tau fenomena terbaru disekitarmu? Apa kamu tau kalo Miiko sekarang udah naik kelas 6?

Sebenernya, yang aku sebut anti-sosial adalah orang-orang yang “tau” tentang dunia diluar sana tapi disebelahnya sendiri gaktau. Iya, dia tau Justin Bieber kepleset WC tapi gak tau kalo adeknya baru bisa jalan. Dia peduli lingkungan kalimantan tapi liat sampah di deket rumahnya aja dibiarin. Entah pedulinya itu cuma buat ikut-ikutan berita atau emang beneran peduli. Dan ini yang terjadi kalo kamu gak peduli sama lingkungan sekitarmu.

ü Kamu bakalan jadi orang yang gak punya rasa empati. Kamu gak bakalan peduli sekitarmu, sekalinya peduli itu hanya formalitas belaka.
ü Orang-orang sekitar akan merasa asing ketika bertemu denganmu. Saking asyiknya kamu sama organisasimu, sekalinya kamu datang ke rapat RT untuk mewakili orang tuamu kamu gak dikenal. Dan bisik-bisik tetangga pun dimulai; “Itu siapa?”, “Ohh itu anaknya Pak Gunawan”, “Warga baru ya?”, dan lain sebagainya.
ü Kamu yang ngakunya update padahal sebenernya enggak. Ya seperti awalku bilang, kamu “tau” Justin Bieber kepleset WC tapi gak tau kalo adekmu udah bisa jalan.
ü Ketika kamu melakukan seseorang seperti itu dia juga akan melakukannya seperti itu. Ketika kamu tidak peduli dengan lingkungan sekitarmu, maka itu yang akan dilakukan lingkungan sekitarmu terhadapmu.


Dan.. cukup sekian coretan-coretanku kali ini. Semoga bermanfaat dan membuatmu berpikir ulang tentang sikap yang sudah kamu perbuat. Perbaiki diri sendiri lalu bantu orang lain memperbaikinya. See you in next post. Bye~ Sayonara~ Dadaahh~

Otak-atik Kehidupan #1

Posted: Rabu, 20 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
1

Hai hai, gimana kabar kalian? Semoga baik. Kali ini, aku akan membahas tentang quote “Hidup jangan dibikin drama”. Dan inilah pendapatku tentang quote tersebut, here we go. Selamat membaca.

Quote ini menurutku salah kaprah. Bagaimana hidup tak dibikin drama sedangkan kita sejatinya adalah aktor? Sejatinya kita adalah aktor yang sangat handal dan murah. Kita tidak dibayar untuk melakukan suatu peran tapi kita tetap melakukan peran tersebut. Kita memerankan beberapa peran berbeda pada setiap insan. Peran yang secara alami mengalir begitu saja tanpa kita sadari. Aktor kehidupan. Kita merubah peran kita secara berkala sesuai tempat. Kita bermain drama dengan natural bersama orang-orang disekitar kita. Setiap harinya kita berdialog bahkan bermonolog dengan gamblangnya tanpa menghafal suatu teks drama. Tanpa beban dan lepas begitu saja. Tak usah diberi pelajari di suatu instansi, kita sudah mudah melakoninya.

Ketika kita sedang dirumah, kita berperan menjadi seorang anak atau saudara.. Ketika didepan orang tua, kita berperan menjadi anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani. Kita memiliki sifat dan sikap yang berbeda ketika menjadi seorang anak. Sikap dan sifat ini bisa kita “baca” melalui dialog kita kepada orang tua atau perilaku kita di depan orang tua. Ketika berhadapan dengan adik atau kakak, kita mengubah peran kita kembali. Begitu seterusnya ketika kita berada di tempat atau di hadapan orang tertentu. Kita berada di ruang lingkup drama yang sangat pelik. Sulit diurai latar belakang cerita ini bahkan sulit mempercayai adanya peran tersebut. Kita pun tidak benar-benar bisa mewujudkan quote yang lain, seperti “Jadilah diri sendiri”. Kembali lagi ke drama itu sendiri. Bagaimana bisa jadi diri sendiri jikalau kita selalu memerankan tokoh yang berbeda dan berubah-ubah? Kita hanya bisa menjadi diri sendiri ketika kita sendirian dalam suatu ruang atau tempat. Kayak yang sempet di tulis Marco Ivanosartis ask.fmdi akun ask.fmnya. 



Dan.. sekian coretan-coretan kali ini. See you in next post. Terima kasih telah membaca. Tinggalkan jejakkritik, saran, dan komentarya. Bye~ Sayonara~ Dadaah~

Tidak sekolah? Gimana jadinya?

Posted: Selasa, 19 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
2

Apasih yang ada dibenakmu saat kamu mendengar ‘aku tidak mau sekolah’? Masa depan suram? Tidak punya pekerjaan? Atau gak cocok jadi masa depanmu? #eaa. Oke, kali ini aku bakalan bahas tentang gimana sih masa depan atau yang bisa dilakuin kalo kita gak sekolah seperti orang-orang disekitar kita.

First of all, seperti yang kalian tau, banyak siswa yang ‘tidak suka sekolah’ bukan karna sekolahnya tapi lingkungan belajarnya atau cara guru mengajar. Aku adalah salah satu anak yang termasuk “tidak sekolah”. Sebenarnya, tidak bisa dikatakan tidak sekolah, melainkan aku sekolah melalui jalur homeschooling. Aku tidak benar-benar seutuhnya sekolah tapi aku juga tidak benar-benar tidak sekolah. Kenapa aku memilih program homeschooling? Alasanku cuma satu, aku tidak mau sekolah. Iya, aku benar-benar tidak mau sekolah. Dimana guru mengajar di depan, murid duduk di kelas dan mendengarkan guru. Dan juga kita terpacu sama cara mengajar guru tersebut. Dengan aku ber-homeschooling, aku menemukan cara belajarku sendiri jadi tidak tergantung cara mengajar guru di kelas. Dilain waktu, aku bisa menyalurkan hobi menulisku. Program ini benar-benar mengharuskan kita mengatur waktu/jam kerja kita sendiri. Kita harus tau porsi belajar, porsi bermain, porsi istirahat, dan porsi kegiatan kita lainnya. Homeschooling cuma belajar dirumah? Bosenin? Tidak. Sebenarnya homeschooling ada 2 cara, yaitu kamu tetap datang ke kelas dengan waktu yang tidak seperti sekolah biasa atau guru datang kerumah. Dan aku mengambil cara pertama, tetap datang ke tempat lembaga tersebut pada jam-jam yang sudah ditentukan. Sama aja dong dengan sekolah? Beda. Benar-benar beda. Kamu akan merasakan bagaimana rasanya kuliah di usia dini, di usia dimana kamu homeschooling. Kita sudah harus tau materi sebelum masuk kelas, lalu guru menambahkan beberapa hal penting untuk materi tersebut. Kalau tidak membaca sebelumnya, kita akan ketinggalan pelajaran. Aku “sekolah” 3 hari dalam seminggu, sisanya? Gak ada kerjaan, kalo kamu gak kerja.

Apasih yang bisa dilakuin kalo kita gak sekolah? Banyak. Apa bisa kerja kalau tidak sekolah? Bisa. Caranya? Oke, gini. Jika aku tidak bersekolah, aku bisa..
·        Menekuni hobi. Hobi setiap orang berbeda-beda, ada yang hobi membaca, menulis, bercerita, mengkoleksi sesuatu, dan lain sebagainya. Kalau hobi ini kita tekuni, maka jadilah hobi tidak hanya hobi. Tapi bisa menghasilkan sesuatu, seperti sebuah karya.
·   Menjalankan bisnis. Dewasa ini, banyak sekali pembisnis muda. Merintis bisnis sejak dini, dengan modal niat dan tekad. Tidak jarang kita temui, pembisnis-pembisnis muda ini hanya memilik ijazah SMP bahkan SD. Mereka merelakan sekolahnya demi bisnis yang digemarinya. Kalau sudah bisnis kita melampui jatah kita bersekolah, mau tidak mau kita harus melepaskannya.
·       Berkeliling Indonesia. Siapa orang yang tidak mendambakan indahnya negri tanah kita berpijak ini? Semua pasti ingin bisa berkeliling Indonesia. Sekedar melihat langit Indonesia dengan posisi berbeda atau buat gaya check-in di path. Hehe. Bisa juga foto-foto pemandangan Indonesia dan dijual. Dan kita tidak hanya mengeluarkan uang untuk pergi tapi juga menghasilkan uang. Ide bagus?

Itu adalah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan ketika tidak bersekolah. Kamu bisa merubah caramu belajar dengan metode homeschooling, berbinis, atau menyalurkan hobimu. Sekian coretan-coretanku kali ini, sampai bertemu di coretan selanjutnya. Bye~ Sayonara~ Dadaahh~