Halte

Posted: Senin, 29 Agustus 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

          Pagi ini aku melihatmu di halte. Halte bus yang selalu kamu jadikan tempat berteduh. Tubuhmu tak mau menjadi tempat pemberhentian air hujan. Kamu berusaha membuka payungmu, payung tidak kunjung terbuka. Rusak, payung itu rusak. Beberapa penyangganya lepas. Sepatumu basah, membuat wajahmu semakin tak enak pandang. Nafasmu tak beraturan. Akhirnya, kamu duduk menunggu hujan. Tidak ada pilihan lain selain menunggu. Menerpa pun tak mau. Beberapa kali kamu menyentuh handphone putihmu, menyentuh beberapa tombol, dan menelpon seseorang. Tampaknya tidak ada jawaban. Aku sok tahu? Tidak, raut wajahmu yang berbicara padaku. Bahkan aku tidak bertanya pada wajahmu. Wajahmu bercerita segalanya apa yang kamu rasakan. Jadi, jangan salahkan aku jika aku membaca perasaanmu.

Kamu pun memandang tempatku berdiri. Menatapku aneh, mungkin yang kamu pikirkan adalah kenapa aku berada ditengah badai hujan seperti ini. Tidakkah aku mencari tempat teduh agar air hujan tidak sembarangan menyentuh tubuhku. Tidak, aku tidak ingin. Aku bahagia dengan hujan ini. Aku senang dengan hujan. Kapan pun hujan mau datang, aku menyambutnya dengan gembira. Bahkan aku rela sakit karena hujan. Raut wajahmu kembali aneh melihatku. Kamu memandang payung-payung disekitarku, menerka-nerka apa yang aku lakukan. Kamu berdiri menuju tepi halte. Kamu mengucapkan sesuatu kepadaku, namun badai ini membuatnya tidak terdengar. Sekuat tenaga kamu teriakan sesuatu kepadaku, badai ini lebih keras.  


Hujan mulai reda. Orang-orang mulai kembali turun ke jalanan. Termasuk kamu. Sepatumu mulai mengering, wajahmu mulai ceria. Senyummu merekah, kamu juga mulai menyapa orang yang senasib denganmu. Halte mulai sepi, tapi tampaknya kamu tidak ingin pergi dari halte itu. Hei, kamu melambaikan tangan padaku? Aku membawa payung-payungku dan berjalan menghampirinya. Kamu duduk, tersenyum kepadaku. Susah payah ku berkata, “H…huj..an.. re..da, anda.. tidak pe..r..gi?”. Kamu memandangku, senyummu kini hadir kembali. Tak hanya itu, kamu pun mulai mengerti bahwa bukan badai yang membuatku tidak mendengar ucapmu. Tapi, takdir ini yang membuatku tidak bisa mendengar suara apapun kecuali suara hatiku. Kamu juga mulai paham, mengapa aku berdiri ditengah badai hujan bersama payung-payung ini. Ya, perkenalkan aku adalah seorang tuna rungu yang menjajakan payung. Kini sudah kamu mengerti, terima kasih tidak iba denganku. Terima kasih tidak mengolokku. Dan terima kasih atas senyumanmu.  Aku harus pergi, tugasku telah selesai. Semoga kamu selalu bahagia ketika bertemu hujan lain waktu. Semoga hujan dan halte ini mengenang pertemuan singkat kita.