Kursi Roda
Posted: Kamis, 19 Mei 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0
Kursi Roda
Selamat sore, Pak. Bagaimana kabar Bapak? Ini anakmu Fajar, Pak. Bapak
masih ingat?
30 tahun yang lalu,aku hadir di dunia. Menurut cerita Bapak, sejak
saat itu Bapak telat berangkat kerja karena sibuk bermain denganku setiap pagi.
Bapak rela bangun pagi memandikanku dan menjemurku. Bapak tidak mau ibu yang
memandikanku, kata Bapak “Biar ibu istirahat saja setelah berjuang 9 bulan
menjagamu”. Senyuman Bapak tidak pernah padam ketika bermain denganku. “Bapakmu
le,kalo ketemu kamu kayak anak kecil baru dibelikan mainan” cerita Ibu ketika menemaniku
bermain. Bapak rela tidur malam untuk mendongeng, meski Bapak tau aku belum
mengerti. Terkadang Bapak rela dimarahi Juragan Sardi karena tugas yang
diberikan tidak dikerjakan tepat waktu demi mendongeng. Tiga bulan sudah
berlalu,Bapak tidak pernah bosan dengan rutinitasnya. Bapak masih memandikanku,
bermain denganku, dan tentu saja mendongeng. Ketika aku sudah mulai tengkurap, Bapak
senang bukan kepalang. Dengan sabar membantuku untuk kembali telentang,meski
aku akan kembali tengkurap. Mengajariku untuk kembali telentang meski aku
memilih menangis agar bisa kembali. Kini umurku lima bulan,aku sudah mulai bisa
memekik gembira. Bapak punya hobi baru sekarang. Menggodaku hingga aku tertawa
gembira setiap pagi. Bapak akan selalu mencariku setiap pagi. Tidak peduli
dirinya sudah terlambat hadir untuk kerja.
Satu tahun berlalu. Aku sudah mulai bisa berjalan. Langkah pertamaku
diabadikan Bapak menggunakan kamera barunya. Bapak rela mengeluarkan merogoh
kantong lumayan dalam demi sebuah kamera. Kata Bapak “Biar kamu ada
kenang-kenangan nanti kalau besar”. Hampir setiap langkahku, Bapak sibuk cekrek
sana cekrek sini. Bapak sering kecewa kalau tidak sempat mengabadikannya. “Kamu
kalo jalan jangan cepet-cepet le,Bapak susah motonya” gerutu Bapak. Bapak punya
pekerjaan sampingan sekarang. Fotografer pribadiku,hehehe. Maafkan Fajar ya
Pak, beberapa foto hilang karena Fajar tidak menyimpannya dengan benar.
Kini usiaku empat tahun. Pesta ulang tahun pertamaku. Pernah aku
bertanya kepada Bapak, “Pak,kenapa ulang tahun Fajar baru dirayakan umur empat
tahun?”. Bapak tersenyum,menjawab dengan tenang “Kalau Bapak rayakan sejak
umurmu satu tahun,opo yo koe wes mudeng le?”. Konsep yang Bapak terapkan itu
juga aku terapkan di keluargaku, Pak. Aksa anak pertamaku kini berumur empat
tahun, beberapa hari ini aku sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Bapak tahu?
Aksa memberiku pertanyaan yang sama. Pesta ulang tahun pertamaku, aku masih
mengingatnya. Tidak mewah, tidak terlalu banyak yang datang, tapi itu pesta
yang sangat mengenang di hati. Dengan tema Power
Rangers, balon-balon pesta, kue ulang tahun rasa cokelat, dan pernak-pernik
pesta lainnya. Potongan kue pertama aku berikan kepada Bapak. Bapak menangis
memelukku. “Dadi wong sing berguna yo le, Bapak bangga sama kamu. Maaf yo le,
Bapak belum bisa jadi Bapak yang baik buat kamu. Maaf, Bapak belum bisa bahagiain
kamu sama ibu. Bapak masih banyak kekurangannya, Bapak masih belajar jadi imam
keluarga. Bapak masih banyak salah le” itu yang Bapak katakan ketika memelukku.
Pak, kini aku akan menjawab pernyataan itu.
Pak, Bapak sudah jadi Bapak paling baik buat Fajar. Bapak sudah
bahagiain Fajar, ibu, dan adik-adik. Bapak sudah menjalankan tugas menjadi imam
keluarga yang baik. Bapak tidak ada salah sama Fajar. Terima kasih Bapak sudah
mendidik dan membesarkan Fajar dengan sabar. Terima kasih Bapak sudah rela
bekerja banting tulang untuk keluarga. Terima kasih Bapak sudah memberi separuh
waktu Bapak untuk mendengarkan ceritaku dan adik-adik. Bapak adalah insiparator
nomor satu buat Fajar. Cerita-cerita Bapak, canda Bapak, keringat Bapak, dan
semua tentang Bapak masih tertanam di hati Fajar. Pak, maafkan Fajar kalau
Fajar banyak mengeluh, banyak permintaan, banyak membuat hati Bapak sakit,
banyak tidak menurut nasihat Bapak. Bapak guru tersabar dan terbaik. Guru pertama
Fajar. Maafkan saya Pak, kalau saya sering lupa mengunjungi Bapak. Saya terlalu
sibuk dengan pekerjaan. Terlalu hanyut dalam senangnya mencari uang. Sehingga saya
lupa waktu untuk mengunjungi Bapak. Saya tau, Bapak tidak menuntut banyak untuk
saya. Bapak hanya ingin saya berkunjung. Senyum Bapak ketika saya berkunjung
masih melekat di benak saya. Maafkan saya Pak, sering salah mengartikan pesan
singkat Bapak. Pesan singkat yang mengartikan Bapak ingin kehadiran saya. Saya sering
marah ketika Bapak memberi saya pesan singkat. Saya sering berkata “Ganggu
saja, kayak anaknya cuma aku”.
Pak, saya Fajar. Anak Bapak nomor satu. Pak, Bapak masih ingat
saya? Ini saya belikan kursi roda untuk Bapak agar Bapak bisa menghirup udara
segar. Agar bisa melihat-lihat sekitar rumah.
Tapi, sepertinya Tuhan meminta Bapak untuk istirahat. Biarkan Fajar
yang menjadi tulang punggung keluarga. Bapak istirahat saja ya. Tidak usah
memikirkan Fajar, ibu, dan adik-adik. Semua baik-baik saja. Kita disini selalu
berdoa untuk Bapak. Bapak bahagia ya disana. Bapak pasti senang melihat
adik-adik tumbuh dewasa. Adik-adik terkadang masih suka nangis, Pak. Tapi itu
tidaklah apa, Bapak tenang saja. Ada Fajar disini. Pak, sekali lagi maafkan
Fajar. Fajar harus pergi ke kantor lagi, masih ada tugas yang menumpuk. Oh iya,
ini Fajar bawakan melati kesukaan Bapak. Fajar permisi dulu Pak. Fajar sayang
Bapak.