Pergi

Posted: Sabtu, 01 Oktober 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Mungkin aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini. Aku yang merasa masih ada cukup waktu untuk tidak bertemu, tapi aku salah sangka. Pertemuan ini sudah pasti. Semua pertemuan ini adalah hal yang pasti. Aku sudah tahu itu. Kita bertemu secara tiba-tiba. Tetapi waktu tidak terkejut akan kehadiranmu, ia tetap berjalan seperti biasanya. Waktu, kenapa kau tidak memberiku pertanda akan kehadirannya? Aku yakin kamu tahu soal kehadirannya. Waktu, ketika aku bertemu dengannya, kenapa baru aku sadari betapa hebatnya kamu? Aku sudah hidup bersamamu selama 17 tahun dan kamu tidak memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya lain hari? Kita sudah berteman akrab, jadi ini yang akan kamu sombongkan kepadaku? Bahwa kamu sangat penting? Aku kira kamu teman terbaikku.

Aku bertemu denganmu. Ketika aku telah merajut beribu kenangan, kamu pun hadir. Hadir sebagai tamu sesaat tetapi membuat kenangan menetap. Hadirmu tak terduga dan penuh kepastian. Aku bahkan tidak membaca pertanda kehadiranmu. Kamu, kenapa harus ada kamu? Mungkin, jika kamu masih berusia kanak-kanak aku tidak lah apa. Kenyataannya, kamu hadir ketika dewasa. Kamu hadir di depanku dengan gagah. Kamu berjalan mendekatiku dan berbisik “Sudah sekarang waktunya kita bertemu, maaf”. Maaf katamu? Aku yakin kamu tahu bahwa maaf itu tidak berguna, tidak mengubah situasi. Kamu tahu? Kehadiranmu telah menghujani pipi ini. Isakku, isak orang-orang, tidakkah membuatmu gentar?

Kini aku sadar, mau tidak mau aku harus siap. Aku harus sama sepertimu, tak gentar oleh apapun. Kedatanganmu tidak menjadi masalah untukku, kedatanganmu hanya sebagai pengingat. Pengingat akan kehadiranmu suatu saat nanti. Aku tidak akan menghujani pipiku lagi. Kini aku mulai berdamai denganmu juga dengan waktu. Waktu berdiri sama gagahnya denganmu, lalu ia sedikit membungkuk. Ia berkata, “Hai, maaf sudah membawanya datang. Tapi, perkenalkan ia temanku, Pergi”. 


Pergi untuk hadir menjadi sebuah kenangan.

Semarang, 1 Oktober 2016

Larasati Pramudyaningrum

Halte

Posted: Senin, 29 Agustus 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

          Pagi ini aku melihatmu di halte. Halte bus yang selalu kamu jadikan tempat berteduh. Tubuhmu tak mau menjadi tempat pemberhentian air hujan. Kamu berusaha membuka payungmu, payung tidak kunjung terbuka. Rusak, payung itu rusak. Beberapa penyangganya lepas. Sepatumu basah, membuat wajahmu semakin tak enak pandang. Nafasmu tak beraturan. Akhirnya, kamu duduk menunggu hujan. Tidak ada pilihan lain selain menunggu. Menerpa pun tak mau. Beberapa kali kamu menyentuh handphone putihmu, menyentuh beberapa tombol, dan menelpon seseorang. Tampaknya tidak ada jawaban. Aku sok tahu? Tidak, raut wajahmu yang berbicara padaku. Bahkan aku tidak bertanya pada wajahmu. Wajahmu bercerita segalanya apa yang kamu rasakan. Jadi, jangan salahkan aku jika aku membaca perasaanmu.

Kamu pun memandang tempatku berdiri. Menatapku aneh, mungkin yang kamu pikirkan adalah kenapa aku berada ditengah badai hujan seperti ini. Tidakkah aku mencari tempat teduh agar air hujan tidak sembarangan menyentuh tubuhku. Tidak, aku tidak ingin. Aku bahagia dengan hujan ini. Aku senang dengan hujan. Kapan pun hujan mau datang, aku menyambutnya dengan gembira. Bahkan aku rela sakit karena hujan. Raut wajahmu kembali aneh melihatku. Kamu memandang payung-payung disekitarku, menerka-nerka apa yang aku lakukan. Kamu berdiri menuju tepi halte. Kamu mengucapkan sesuatu kepadaku, namun badai ini membuatnya tidak terdengar. Sekuat tenaga kamu teriakan sesuatu kepadaku, badai ini lebih keras.  


Hujan mulai reda. Orang-orang mulai kembali turun ke jalanan. Termasuk kamu. Sepatumu mulai mengering, wajahmu mulai ceria. Senyummu merekah, kamu juga mulai menyapa orang yang senasib denganmu. Halte mulai sepi, tapi tampaknya kamu tidak ingin pergi dari halte itu. Hei, kamu melambaikan tangan padaku? Aku membawa payung-payungku dan berjalan menghampirinya. Kamu duduk, tersenyum kepadaku. Susah payah ku berkata, “H…huj..an.. re..da, anda.. tidak pe..r..gi?”. Kamu memandangku, senyummu kini hadir kembali. Tak hanya itu, kamu pun mulai mengerti bahwa bukan badai yang membuatku tidak mendengar ucapmu. Tapi, takdir ini yang membuatku tidak bisa mendengar suara apapun kecuali suara hatiku. Kamu juga mulai paham, mengapa aku berdiri ditengah badai hujan bersama payung-payung ini. Ya, perkenalkan aku adalah seorang tuna rungu yang menjajakan payung. Kini sudah kamu mengerti, terima kasih tidak iba denganku. Terima kasih tidak mengolokku. Dan terima kasih atas senyumanmu.  Aku harus pergi, tugasku telah selesai. Semoga kamu selalu bahagia ketika bertemu hujan lain waktu. Semoga hujan dan halte ini mengenang pertemuan singkat kita. 

Otak-atik Kehidupan #2

Posted: Sabtu, 23 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Hello again. Udah kangen belum? Belum lah, orang tiap hari post haha. Sebelumnya, aku mau tanya dong. Ada gak sih orang disekitarmu yang cuek atau gak peduli sama lingkungan sekitar? Kalo ada, sebel gak? Kalo sebel, berarti kita sama. Tapi kita belum tentu jodoh ya. Oke, kali ini aku bakalan bahas tentang orang yang cuek/tidak peduli lingkungan sekitar. Here we go, selamat membaca.

(Disuatu taman)
Cewek : “Jadi orang itu yang peka!”
Cowok : “Dasar cewek semua sama aja, penuh kode. Kalo pengen sesuatu itu bilang, jangan kode. Aku bukan barcode!”

Yakk, sering kan denger atau baca percakapan semacam ini? Sebenernya bukan masalah dia cewek atau cowok, tapi kita memang harus peka terhadap sesuatu. Apa sesuatu itu? Lingkungan sekitar. Yap! Dewasa ini, banyak sekali orang yang hanya peduli dengan diri sendiri. Ada yang sibuk dengan tugas sekolah, ada yang sibuk dengan hobinya, ada yang sibuk dengan rapat organisasi, dan sibuk-sibuk lainnya. Hingga kita tidak sadar bahwa itu semua membuat kita anti-sosial. Kok bisa anti-sosial kalo sibuknya karena organisasi gimana? Ya tetap anti-sosial. Bukan karena kamu anak organisasi, kamu sudah terhindar dari cap anti-sosial. Kamu sibuk dengan organisasimu saja, kamu berinteraksi dengan anak organisasi saja, apa kamu tau fenomena terbaru disekitarmu? Apa kamu tau kalo Miiko sekarang udah naik kelas 6?

Sebenernya, yang aku sebut anti-sosial adalah orang-orang yang “tau” tentang dunia diluar sana tapi disebelahnya sendiri gaktau. Iya, dia tau Justin Bieber kepleset WC tapi gak tau kalo adeknya baru bisa jalan. Dia peduli lingkungan kalimantan tapi liat sampah di deket rumahnya aja dibiarin. Entah pedulinya itu cuma buat ikut-ikutan berita atau emang beneran peduli. Dan ini yang terjadi kalo kamu gak peduli sama lingkungan sekitarmu.

ü Kamu bakalan jadi orang yang gak punya rasa empati. Kamu gak bakalan peduli sekitarmu, sekalinya peduli itu hanya formalitas belaka.
ü Orang-orang sekitar akan merasa asing ketika bertemu denganmu. Saking asyiknya kamu sama organisasimu, sekalinya kamu datang ke rapat RT untuk mewakili orang tuamu kamu gak dikenal. Dan bisik-bisik tetangga pun dimulai; “Itu siapa?”, “Ohh itu anaknya Pak Gunawan”, “Warga baru ya?”, dan lain sebagainya.
ü Kamu yang ngakunya update padahal sebenernya enggak. Ya seperti awalku bilang, kamu “tau” Justin Bieber kepleset WC tapi gak tau kalo adekmu udah bisa jalan.
ü Ketika kamu melakukan seseorang seperti itu dia juga akan melakukannya seperti itu. Ketika kamu tidak peduli dengan lingkungan sekitarmu, maka itu yang akan dilakukan lingkungan sekitarmu terhadapmu.


Dan.. cukup sekian coretan-coretanku kali ini. Semoga bermanfaat dan membuatmu berpikir ulang tentang sikap yang sudah kamu perbuat. Perbaiki diri sendiri lalu bantu orang lain memperbaikinya. See you in next post. Bye~ Sayonara~ Dadaahh~

Otak-atik Kehidupan #1

Posted: Rabu, 20 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
1

Hai hai, gimana kabar kalian? Semoga baik. Kali ini, aku akan membahas tentang quote “Hidup jangan dibikin drama”. Dan inilah pendapatku tentang quote tersebut, here we go. Selamat membaca.

Quote ini menurutku salah kaprah. Bagaimana hidup tak dibikin drama sedangkan kita sejatinya adalah aktor? Sejatinya kita adalah aktor yang sangat handal dan murah. Kita tidak dibayar untuk melakukan suatu peran tapi kita tetap melakukan peran tersebut. Kita memerankan beberapa peran berbeda pada setiap insan. Peran yang secara alami mengalir begitu saja tanpa kita sadari. Aktor kehidupan. Kita merubah peran kita secara berkala sesuai tempat. Kita bermain drama dengan natural bersama orang-orang disekitar kita. Setiap harinya kita berdialog bahkan bermonolog dengan gamblangnya tanpa menghafal suatu teks drama. Tanpa beban dan lepas begitu saja. Tak usah diberi pelajari di suatu instansi, kita sudah mudah melakoninya.

Ketika kita sedang dirumah, kita berperan menjadi seorang anak atau saudara.. Ketika didepan orang tua, kita berperan menjadi anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani. Kita memiliki sifat dan sikap yang berbeda ketika menjadi seorang anak. Sikap dan sifat ini bisa kita “baca” melalui dialog kita kepada orang tua atau perilaku kita di depan orang tua. Ketika berhadapan dengan adik atau kakak, kita mengubah peran kita kembali. Begitu seterusnya ketika kita berada di tempat atau di hadapan orang tertentu. Kita berada di ruang lingkup drama yang sangat pelik. Sulit diurai latar belakang cerita ini bahkan sulit mempercayai adanya peran tersebut. Kita pun tidak benar-benar bisa mewujudkan quote yang lain, seperti “Jadilah diri sendiri”. Kembali lagi ke drama itu sendiri. Bagaimana bisa jadi diri sendiri jikalau kita selalu memerankan tokoh yang berbeda dan berubah-ubah? Kita hanya bisa menjadi diri sendiri ketika kita sendirian dalam suatu ruang atau tempat. Kayak yang sempet di tulis Marco Ivanosartis ask.fmdi akun ask.fmnya. 



Dan.. sekian coretan-coretan kali ini. See you in next post. Terima kasih telah membaca. Tinggalkan jejakkritik, saran, dan komentarya. Bye~ Sayonara~ Dadaah~

Tidak sekolah? Gimana jadinya?

Posted: Selasa, 19 Juli 2016 by Hanya Coretan Biasa in
2

Apasih yang ada dibenakmu saat kamu mendengar ‘aku tidak mau sekolah’? Masa depan suram? Tidak punya pekerjaan? Atau gak cocok jadi masa depanmu? #eaa. Oke, kali ini aku bakalan bahas tentang gimana sih masa depan atau yang bisa dilakuin kalo kita gak sekolah seperti orang-orang disekitar kita.

First of all, seperti yang kalian tau, banyak siswa yang ‘tidak suka sekolah’ bukan karna sekolahnya tapi lingkungan belajarnya atau cara guru mengajar. Aku adalah salah satu anak yang termasuk “tidak sekolah”. Sebenarnya, tidak bisa dikatakan tidak sekolah, melainkan aku sekolah melalui jalur homeschooling. Aku tidak benar-benar seutuhnya sekolah tapi aku juga tidak benar-benar tidak sekolah. Kenapa aku memilih program homeschooling? Alasanku cuma satu, aku tidak mau sekolah. Iya, aku benar-benar tidak mau sekolah. Dimana guru mengajar di depan, murid duduk di kelas dan mendengarkan guru. Dan juga kita terpacu sama cara mengajar guru tersebut. Dengan aku ber-homeschooling, aku menemukan cara belajarku sendiri jadi tidak tergantung cara mengajar guru di kelas. Dilain waktu, aku bisa menyalurkan hobi menulisku. Program ini benar-benar mengharuskan kita mengatur waktu/jam kerja kita sendiri. Kita harus tau porsi belajar, porsi bermain, porsi istirahat, dan porsi kegiatan kita lainnya. Homeschooling cuma belajar dirumah? Bosenin? Tidak. Sebenarnya homeschooling ada 2 cara, yaitu kamu tetap datang ke kelas dengan waktu yang tidak seperti sekolah biasa atau guru datang kerumah. Dan aku mengambil cara pertama, tetap datang ke tempat lembaga tersebut pada jam-jam yang sudah ditentukan. Sama aja dong dengan sekolah? Beda. Benar-benar beda. Kamu akan merasakan bagaimana rasanya kuliah di usia dini, di usia dimana kamu homeschooling. Kita sudah harus tau materi sebelum masuk kelas, lalu guru menambahkan beberapa hal penting untuk materi tersebut. Kalau tidak membaca sebelumnya, kita akan ketinggalan pelajaran. Aku “sekolah” 3 hari dalam seminggu, sisanya? Gak ada kerjaan, kalo kamu gak kerja.

Apasih yang bisa dilakuin kalo kita gak sekolah? Banyak. Apa bisa kerja kalau tidak sekolah? Bisa. Caranya? Oke, gini. Jika aku tidak bersekolah, aku bisa..
·        Menekuni hobi. Hobi setiap orang berbeda-beda, ada yang hobi membaca, menulis, bercerita, mengkoleksi sesuatu, dan lain sebagainya. Kalau hobi ini kita tekuni, maka jadilah hobi tidak hanya hobi. Tapi bisa menghasilkan sesuatu, seperti sebuah karya.
·   Menjalankan bisnis. Dewasa ini, banyak sekali pembisnis muda. Merintis bisnis sejak dini, dengan modal niat dan tekad. Tidak jarang kita temui, pembisnis-pembisnis muda ini hanya memilik ijazah SMP bahkan SD. Mereka merelakan sekolahnya demi bisnis yang digemarinya. Kalau sudah bisnis kita melampui jatah kita bersekolah, mau tidak mau kita harus melepaskannya.
·       Berkeliling Indonesia. Siapa orang yang tidak mendambakan indahnya negri tanah kita berpijak ini? Semua pasti ingin bisa berkeliling Indonesia. Sekedar melihat langit Indonesia dengan posisi berbeda atau buat gaya check-in di path. Hehe. Bisa juga foto-foto pemandangan Indonesia dan dijual. Dan kita tidak hanya mengeluarkan uang untuk pergi tapi juga menghasilkan uang. Ide bagus?

Itu adalah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan ketika tidak bersekolah. Kamu bisa merubah caramu belajar dengan metode homeschooling, berbinis, atau menyalurkan hobimu. Sekian coretan-coretanku kali ini, sampai bertemu di coretan selanjutnya. Bye~ Sayonara~ Dadaahh~

Kursi Roda

Posted: Kamis, 19 Mei 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

   Kursi Roda

       Selamat sore, Pak. Bagaimana kabar Bapak? Ini anakmu Fajar, Pak. Bapak masih ingat?

30 tahun yang lalu,aku hadir di dunia. Menurut cerita Bapak, sejak saat itu Bapak telat berangkat kerja karena sibuk bermain denganku setiap pagi. Bapak rela bangun pagi memandikanku dan menjemurku. Bapak tidak mau ibu yang memandikanku, kata Bapak “Biar ibu istirahat saja setelah berjuang 9 bulan menjagamu”. Senyuman Bapak tidak pernah padam ketika bermain denganku. “Bapakmu le,kalo ketemu kamu kayak anak kecil baru dibelikan mainan” cerita Ibu ketika menemaniku bermain. Bapak rela tidur malam untuk mendongeng, meski Bapak tau aku belum mengerti. Terkadang Bapak rela dimarahi Juragan Sardi karena tugas yang diberikan tidak dikerjakan tepat waktu demi mendongeng. Tiga bulan sudah berlalu,Bapak tidak pernah bosan dengan rutinitasnya. Bapak masih memandikanku, bermain denganku, dan tentu saja mendongeng. Ketika aku sudah mulai tengkurap, Bapak senang bukan kepalang. Dengan sabar membantuku untuk kembali telentang,meski aku akan kembali tengkurap. Mengajariku untuk kembali telentang meski aku memilih menangis agar bisa kembali. Kini umurku lima bulan,aku sudah mulai bisa memekik gembira. Bapak punya hobi baru sekarang. Menggodaku hingga aku tertawa gembira setiap pagi. Bapak akan selalu mencariku setiap pagi. Tidak peduli dirinya sudah terlambat hadir untuk kerja.

Satu tahun berlalu. Aku sudah mulai bisa berjalan. Langkah pertamaku diabadikan Bapak menggunakan kamera barunya. Bapak rela mengeluarkan merogoh kantong lumayan dalam demi sebuah kamera. Kata Bapak “Biar kamu ada kenang-kenangan nanti kalau besar”. Hampir setiap langkahku, Bapak sibuk cekrek sana cekrek sini. Bapak sering kecewa kalau tidak sempat mengabadikannya. “Kamu kalo jalan jangan cepet-cepet le,Bapak susah motonya” gerutu Bapak. Bapak punya pekerjaan sampingan sekarang. Fotografer pribadiku,hehehe. Maafkan Fajar ya Pak, beberapa foto hilang karena Fajar tidak menyimpannya dengan benar.

Kini usiaku empat tahun. Pesta ulang tahun pertamaku. Pernah aku bertanya kepada Bapak, “Pak,kenapa ulang tahun Fajar baru dirayakan umur empat tahun?”. Bapak tersenyum,menjawab dengan tenang “Kalau Bapak rayakan sejak umurmu satu tahun,opo yo koe wes mudeng le?”. Konsep yang Bapak terapkan itu juga aku terapkan di keluargaku, Pak. Aksa anak pertamaku kini berumur empat tahun, beberapa hari ini aku sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Bapak tahu? Aksa memberiku pertanyaan yang sama. Pesta ulang tahun pertamaku, aku masih mengingatnya. Tidak mewah, tidak terlalu banyak yang datang, tapi itu pesta yang sangat mengenang di hati. Dengan tema Power Rangers, balon-balon pesta, kue ulang tahun rasa cokelat, dan pernak-pernik pesta lainnya. Potongan kue pertama aku berikan kepada Bapak. Bapak menangis memelukku. “Dadi wong sing berguna yo le, Bapak bangga sama kamu. Maaf yo le, Bapak belum bisa jadi Bapak yang baik buat kamu. Maaf, Bapak belum bisa bahagiain kamu sama ibu. Bapak masih banyak kekurangannya, Bapak masih belajar jadi imam keluarga. Bapak masih banyak salah le” itu yang Bapak katakan ketika memelukku. Pak, kini aku akan menjawab pernyataan itu.

Pak, Bapak sudah jadi Bapak paling baik buat Fajar. Bapak sudah bahagiain Fajar, ibu, dan adik-adik. Bapak sudah menjalankan tugas menjadi imam keluarga yang baik. Bapak tidak ada salah sama Fajar. Terima kasih Bapak sudah mendidik dan membesarkan Fajar dengan sabar. Terima kasih Bapak sudah rela bekerja banting tulang untuk keluarga. Terima kasih Bapak sudah memberi separuh waktu Bapak untuk mendengarkan ceritaku dan adik-adik. Bapak adalah insiparator nomor satu buat Fajar. Cerita-cerita Bapak, canda Bapak, keringat Bapak, dan semua tentang Bapak masih tertanam di hati Fajar. Pak, maafkan Fajar kalau Fajar banyak mengeluh, banyak permintaan, banyak membuat hati Bapak sakit, banyak tidak menurut nasihat Bapak. Bapak guru tersabar dan terbaik. Guru pertama Fajar. Maafkan saya Pak, kalau saya sering lupa mengunjungi Bapak. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Terlalu hanyut dalam senangnya mencari uang. Sehingga saya lupa waktu untuk mengunjungi Bapak. Saya tau, Bapak tidak menuntut banyak untuk saya. Bapak hanya ingin saya berkunjung. Senyum Bapak ketika saya berkunjung masih melekat di benak saya. Maafkan saya Pak, sering salah mengartikan pesan singkat Bapak. Pesan singkat yang mengartikan Bapak ingin kehadiran saya. Saya sering marah ketika Bapak memberi saya pesan singkat. Saya sering berkata “Ganggu saja, kayak anaknya cuma aku”. 

Pak, saya Fajar. Anak Bapak nomor satu. Pak, Bapak masih ingat saya? Ini saya belikan kursi roda untuk Bapak agar Bapak bisa menghirup udara segar. Agar bisa melihat-lihat sekitar rumah.

Tapi, sepertinya Tuhan meminta Bapak untuk istirahat. Biarkan Fajar yang menjadi tulang punggung keluarga. Bapak istirahat saja ya. Tidak usah memikirkan Fajar, ibu, dan adik-adik. Semua baik-baik saja. Kita disini selalu berdoa untuk Bapak. Bapak bahagia ya disana. Bapak pasti senang melihat adik-adik tumbuh dewasa. Adik-adik terkadang masih suka nangis, Pak. Tapi itu tidaklah apa, Bapak tenang saja. Ada Fajar disini. Pak, sekali lagi maafkan Fajar. Fajar harus pergi ke kantor lagi, masih ada tugas yang menumpuk. Oh iya, ini Fajar bawakan melati kesukaan Bapak. Fajar permisi dulu Pak. Fajar sayang Bapak.


SENJA

Posted: Selasa, 17 Mei 2016 by Hanya Coretan Biasa in
2

SENJA
Halo,perkenalkan diriku. Aku adalah pengagummu. Tidakkah kau kenal atau pernah melihat diriku memandangimu terpaku? Membisu? Membeku? Aku yang mengaku sebagai pengagummu,sudah mengagumimu sejak lama. Sedari diriku masih sering bersenda gurau di empang setiap sore dengan khayalan-khayalan tinggi ala bocah ingusan. Apakah kamu sadar? Bahwa telur bisa didadar? Tidak,aku hanya bercanda agar tidak terlalu serius dan bisa melihat senyumanmu itu. Kamu tahu? Aku akan berubah menjadi badut ketika didekatmu,agar kamu tertawa tersenyum karnaku. Aku hanya salah satu pengagummu,kamu tahu itu. Bagai pungguk merindukan bulan. Memandangimu dari jauh saja aku sudah minder. Senja. Aku adalah pecandumu,Senja. Nama yang cocok untukmu,kamu indah seperti senja yang digambarkan oleh semesta alam ini. Bahkan kamu lebih indah daripada senja. Senja,apakah kamu tahu aku disini saat ini sibuk berimajinasi tentangmu. Sibuk mengingat-ingat wajahmu,tingkah lakumu,dan senyummu. Sudah alasan yang klise untuk seorang lelaki mencintai wanita berawal dari senyumnya. Kamu tanya mengapa aku memilih alasan itu? Agar ketika alasan itu hilang,aku bisa menjadi alasan untukmu mengembalikan senyummu. Alasanku mencintaimu tidak akan pernah hilang lagi. Mudah? Tentu tidak. Aku bukan cenayang yang bisa menebak hati wanita,apalagi kamu. Sungguh lebih mudah keluar dari labirin dibanding memahamimu,seorang wanita. Aku akui itu. Pria mana yang tidak mengakuinya?
Senja,kamu gula dalam kopiku. Meski aku tak begitu suka manis,tapi aku begitu suka kamu. Kopiku tak perlu gula ketika aku mulai jatuh hati kepadamu. Kamu pemanis hari-hariku. Penambah rasa yang semula hambar. Meski kamu tak begitu manis. Hehe. Maaf,jangan marah dulu. Karena aku memang mencari perempuan sepertimu,yang tidak begitu manis. Agar aku tidak diabetes. Kesehatan tetap nomor satu kan?
Mungkin sampai disini dulu suratku untukmu. Selamat malam,semoga mimpi kita naik bus dengan tujuan yang sama. Agar kita bisa turun di halte yang sama,melepas rindu dengan canda tawamu. Oiya,salam untuk ibumu. Ucapkan terima kasih telah melahirkan dan membesarkanmu. Salam juga untuk bapakmu. Ucapkan terima kasih telah mendidik anaknya dengan baik,katakan padanya cepat atau lambat aku akan berkunjung merayu hati bapakmu itu. Doakan.
Dariku,


Pengagummu sekaligus pecandu senyummu. 

Berdagang Sejak Dini

Posted: Jumat, 22 April 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Halo,namaku Larasati Pramudyaningrum,panggil saja Laras. Kali ini bukan mau nerusin cerbung (cerita bersambung) Ketika Hari Itu Tiba melainkan aku mau berbagi cerita pengalamanku. Berdagang Sejak Dini. Ya,seperti yang kalian tau judul postingan kali ini adalah Berdagang Sejak Dini. Aku bukan bermaksud untuk kasih tips-tips berdagang,tapi aku hanya ingin berbagi pengalaman bisnisku sedari kecil.
Kata orang tuaku,"bakat" bisnisku adalah bakat yang turun-temunurun dari Almh.Eyang Putriku. Almh.Eyang Putriku adalah pedagang yang cukup sukses pada masanya. Eyangku adalah pedagang yang ulet,karna beliau mengurus sendiri bisnisnya. Mulai dari perkebunan sampai penyembelihan ayam. Kebun Eyangku dirawatnya seorang diri,pagi-pagi naik bus umum dan pulang sekitar jam 17.00. Padahal kalau dipikir-pikir jarak rumah Eyang menuju kebunnya cukup jauh. Mungkin untuk pembaca yang kebetulan satu sekolah denganku,kebun eyangku berada di dekat sekolahku itu (daerah Gunungpati,Semarang) dan rumah eyangku di dekat Tugu Muda. Lumayan jauh bukan? Pernah ada suatu kejadian lucu yang sampai sekarang cerita ini masih aku ceritain ke temen-temen. Suatu hari Eyang menemukan burung kakak tua,diambil dan dirawat. Suatu ketika burung kakak tua itu menggigit jari Eyangku, kalian tau reaksi Eyangku seperti apa? Beliau menggigit burung kakak tua itu juga. Dan keesokan harinya,burung itu hilang. 

Oke,cukup pembahasan tentang eyangku,kembali ke topik. Sejak kecil aku telah menjadi pedagang. Sejak kelas 2 SD aku sudah mencicipi suka-duka berdagang.  Apapun aku jual,mulai dari roti bakar,pisang karamel,stik es krim yang diberi gambar lalu dimainkan (permainan yang biasanya dimaikan Upin & Ipin),minuman-minuman (seperti Pop Ice,Marimas,Segar Sari,Teh Sisri,dsb),kaos,sepatu,kerudung,dan terakhir pulsa. Apa semua berhasil? Beberapa bisa dianggap berhasil dan beberapa ku kategorikan gagal.
Oke,aku mau bahas yang kategori gagal. Pertama kali yang aku anggap gagal adalah stik es krim. Alasannya simpel,karena aku kehabisan stok stik es krim dan semenjak banyak peminat permainan itu,pedagang-pedagang mainan dimanapun ia berada pasti menjual itu dan gambarnya lebih keren dibanding gambarku. Mental persainganku disitu belum terbangun. Sebenarnya ini tidak bisa dijadikan alasan sih,karena seharusnya aku berjuang mencari ide kreasiku sendiri. Ini aku alami ketika kelas 4 SD. Kedua yang masuk kategori gagal adalah minuman. Alasannya sama-sama simpelnya,aku dan temanku (aku jualan berdua) gak punya blender dan mengakibatkan rasa minumannya kurang enak,jadinya gak ada pelanggan. Kita bosen dan bubar. Hahaha,bocah :'). Ini juga aku alami ketika kelas 4 SD.
Oke lanjut,yang ketiga adalah kaos,kerudung,dan sepatu. Aku jadiin satu karna aku jualannya disatu waktu yaitu ketika aku kelas 3 SMP. Waktu itu baru booming-boomingnya jualan online alias online shop atau lebih dikenal dengan sebutan olshop,aku berminat mencoba jualan kaos,kerudung,dan sepatu. Aku mulai tawarin ke temen-temen sekolah,temen-temen sosial media,guru,dan minta bantuan orang tua buat promosiin ke temen-temen kantornya. Dan aku sukses pada awalnya dan gagal pada akhirnya. Alasannya karna aku bosen. Aku udah males buat promosiin,aku udah males buat update,aku udah males buat nanggepin pelanggan,dan lain-lain. Selain itu,untuk harga segitu pada jaman segitu (aku SMP) uang saku temen-temen gak cukup buat beli barang daganganku. Alhasil temen-temen sekitarku gak ada yang beli. Sekarang 95.000 untuk beli kaos pasti mereka beli,dulu kaos harga 60.000 aja mikir-mikir karena pasti gak dibolehin orang tua untuk beli online shop dikarenakan banyak kejadian penipuan. Banyak alasan memang aku ini,karena pada dasarnya orang gagal selalu punya alasan agar tidak dianggap terlalu gagal.

Oke,sekarang masuk kategori yang bisa dianggap sukses. Yang pertama,jualan roti bakar dan pisang karamel. Dan ini terjadi ketika aku kelas 2 SD. Unforgettable moment banget. Awalnya Ibu cuma kasih bekal ke aku roti bakar sama pisang karamel dan pada saat itu baru suka-sukanya sama jajan. Ya namanya anak segitu,dikasih bekal ya lebih milih jajan. Aku jual tuh roti bakar sama pisang karamelnya ke temen-temen uangnya aku pake jajan. Ide bagus? Sangat. Akhirnya,aku tawarin ke temen-temen “Besok mau lagi gak? Kalo mau tulis nama sama berapa pesenanmu,besok tak bawain lagi” dan banyak yang nulis. Pagi-pagi Ibu rela bangun pagi buat bikinin pesenan itu,makasih Bu J. Dan emang dasar akunya,uangnya gak balik buat modal. Jadi,uangnya aku jadiin jajan,hehehe. Sudah 2 hari berlalu. Di hari ketiga,wali kelasku masih di kelas sewaktu istirahat berlangsung. Hari itu aku lebihin sedikit roti sama pisang karamelnya. Wali kelasku merhatiin aku jualan di kelas. Setelah kelas sepi,aku dipanggil sama beliau. Singkat ceritanya gini :

“Jualan apa ras?”
“Roti bakar sama pisang karamel”
“Tak njajal aku,pironan?” (Tak nyoba aku,berapa?)
“Roti bakarnya tiga ribu,pisang karamelnya lima ribu”

Beliau beli masing-masing dua. Bel masuk berbunyi. Wali kelasku berdiri di tengah kelas. Aku udah ada firasat,mau bahas tentang daganganku ini. Dan,ini yang adalah tanggapan beliau yang aku masih ingat sampai sekarang.

“Laras jualan roti bakar sama pisang karamel ya? Mbok ngene cah,opo gak ngisin-ngisini wong tuwamu? Bapakmu (aku) kan pegawai bank,ibu yo PNS,kok anake dodolan. Opo ora ngisin-ngisini? Sing liyane ojo ditiru yo,bapak ibu e pejabat kok malah jualan koyok ngene iki” (Laras jualan roti bakar sama pisang karamel ya? Gini,apa gak malu-maluin orang tuamu? Bapakmu (aku) kan pegawai bank,ibu ya PNS,kok anaknya jualan. Apa gak malu-maluin? Yang lain jangan ditiru ya,bapak ibunya pejabat kok malah jualan kayak gini)

Sesuai yang diajarkan orang tuaku,latihan berdagang itu hal yang bagus dan orang tuaku mendukung. Aku menjawabnya dengan penuh percaya diri.

“Bapak Ibu gak malu Bu,malah Ibu yang masak ini. Bapak Ibu malah suka saya jualan seperti ini kan sekalian latihan berbisnis”

Dan berakhir orang tuaku dipanggil wali kelas tersebut. Yang kedua,jualan pulsa. Ini adalah bisnis/dagangan tersukses versiku. Setelah menginjak jenjang SMA,aku pergi meninggalkan orang tuaku. Bukan,bukan niat mau jadi anak durhaka. Tapi,aku tinggal bersama teman-teman di asrama. Aku mulai mencari-cari celah bisnis di asrama ini dan bisnis yang tepat adalah jualan pulsa. Aku sudah pernah membantu kakak untuk berjualan pulsa. Jadi sudah lumayan mengerti tentang harga dan cara penjualan pulsa. Kali ini yang membantu giliran Bapak dan Kakakku. Bapak yang memberi modal,kakak yang mengisi saldo jualanku. Sampai akhirnya,operatornya susah dihubungi dan tidak pernah menanggapi laporan transfer isi saldoku. Alhasil,bisnis berhenti sementara.


Oke,sekian cerita-cerita pengalaman berdagan sejak dini versiku. Ada yang punya pengalaman yang susah dilupakan? Yuk share cerita-ceritamu di blog milikmu. Kalau sudah,tulis di kolom komentar ya J Jangan lupa kritik dan sarannya. Terima kasih.

Dan.. This is my heroes. Yang dukung aku bisnis ini itu dan yang gak bosen-bosennya ngasih tau ini itu tentang cara-cara bisnis.