SENJA

Posted: Selasa, 17 Mei 2016 by Hanya Coretan Biasa in
2

SENJA
Halo,perkenalkan diriku. Aku adalah pengagummu. Tidakkah kau kenal atau pernah melihat diriku memandangimu terpaku? Membisu? Membeku? Aku yang mengaku sebagai pengagummu,sudah mengagumimu sejak lama. Sedari diriku masih sering bersenda gurau di empang setiap sore dengan khayalan-khayalan tinggi ala bocah ingusan. Apakah kamu sadar? Bahwa telur bisa didadar? Tidak,aku hanya bercanda agar tidak terlalu serius dan bisa melihat senyumanmu itu. Kamu tahu? Aku akan berubah menjadi badut ketika didekatmu,agar kamu tertawa tersenyum karnaku. Aku hanya salah satu pengagummu,kamu tahu itu. Bagai pungguk merindukan bulan. Memandangimu dari jauh saja aku sudah minder. Senja. Aku adalah pecandumu,Senja. Nama yang cocok untukmu,kamu indah seperti senja yang digambarkan oleh semesta alam ini. Bahkan kamu lebih indah daripada senja. Senja,apakah kamu tahu aku disini saat ini sibuk berimajinasi tentangmu. Sibuk mengingat-ingat wajahmu,tingkah lakumu,dan senyummu. Sudah alasan yang klise untuk seorang lelaki mencintai wanita berawal dari senyumnya. Kamu tanya mengapa aku memilih alasan itu? Agar ketika alasan itu hilang,aku bisa menjadi alasan untukmu mengembalikan senyummu. Alasanku mencintaimu tidak akan pernah hilang lagi. Mudah? Tentu tidak. Aku bukan cenayang yang bisa menebak hati wanita,apalagi kamu. Sungguh lebih mudah keluar dari labirin dibanding memahamimu,seorang wanita. Aku akui itu. Pria mana yang tidak mengakuinya?
Senja,kamu gula dalam kopiku. Meski aku tak begitu suka manis,tapi aku begitu suka kamu. Kopiku tak perlu gula ketika aku mulai jatuh hati kepadamu. Kamu pemanis hari-hariku. Penambah rasa yang semula hambar. Meski kamu tak begitu manis. Hehe. Maaf,jangan marah dulu. Karena aku memang mencari perempuan sepertimu,yang tidak begitu manis. Agar aku tidak diabetes. Kesehatan tetap nomor satu kan?
Mungkin sampai disini dulu suratku untukmu. Selamat malam,semoga mimpi kita naik bus dengan tujuan yang sama. Agar kita bisa turun di halte yang sama,melepas rindu dengan canda tawamu. Oiya,salam untuk ibumu. Ucapkan terima kasih telah melahirkan dan membesarkanmu. Salam juga untuk bapakmu. Ucapkan terima kasih telah mendidik anaknya dengan baik,katakan padanya cepat atau lambat aku akan berkunjung merayu hati bapakmu itu. Doakan.
Dariku,


Pengagummu sekaligus pecandu senyummu. 

2 komentar:

  1. Sepertinya, aku jatuh cinta dengan literaturmu, Kak :D

  1. Hahaha, terima kasih. Udah baca kursi roda?