Pergi

Posted: Sabtu, 01 Oktober 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Mungkin aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini. Aku yang merasa masih ada cukup waktu untuk tidak bertemu, tapi aku salah sangka. Pertemuan ini sudah pasti. Semua pertemuan ini adalah hal yang pasti. Aku sudah tahu itu. Kita bertemu secara tiba-tiba. Tetapi waktu tidak terkejut akan kehadiranmu, ia tetap berjalan seperti biasanya. Waktu, kenapa kau tidak memberiku pertanda akan kehadirannya? Aku yakin kamu tahu soal kehadirannya. Waktu, ketika aku bertemu dengannya, kenapa baru aku sadari betapa hebatnya kamu? Aku sudah hidup bersamamu selama 17 tahun dan kamu tidak memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya lain hari? Kita sudah berteman akrab, jadi ini yang akan kamu sombongkan kepadaku? Bahwa kamu sangat penting? Aku kira kamu teman terbaikku.

Aku bertemu denganmu. Ketika aku telah merajut beribu kenangan, kamu pun hadir. Hadir sebagai tamu sesaat tetapi membuat kenangan menetap. Hadirmu tak terduga dan penuh kepastian. Aku bahkan tidak membaca pertanda kehadiranmu. Kamu, kenapa harus ada kamu? Mungkin, jika kamu masih berusia kanak-kanak aku tidak lah apa. Kenyataannya, kamu hadir ketika dewasa. Kamu hadir di depanku dengan gagah. Kamu berjalan mendekatiku dan berbisik “Sudah sekarang waktunya kita bertemu, maaf”. Maaf katamu? Aku yakin kamu tahu bahwa maaf itu tidak berguna, tidak mengubah situasi. Kamu tahu? Kehadiranmu telah menghujani pipi ini. Isakku, isak orang-orang, tidakkah membuatmu gentar?

Kini aku sadar, mau tidak mau aku harus siap. Aku harus sama sepertimu, tak gentar oleh apapun. Kedatanganmu tidak menjadi masalah untukku, kedatanganmu hanya sebagai pengingat. Pengingat akan kehadiranmu suatu saat nanti. Aku tidak akan menghujani pipiku lagi. Kini aku mulai berdamai denganmu juga dengan waktu. Waktu berdiri sama gagahnya denganmu, lalu ia sedikit membungkuk. Ia berkata, “Hai, maaf sudah membawanya datang. Tapi, perkenalkan ia temanku, Pergi”. 


Pergi untuk hadir menjadi sebuah kenangan.

Semarang, 1 Oktober 2016

Larasati Pramudyaningrum

0 komentar: