Berdagang Sejak Dini

Posted: Jumat, 22 April 2016 by Hanya Coretan Biasa in
0

Halo,namaku Larasati Pramudyaningrum,panggil saja Laras. Kali ini bukan mau nerusin cerbung (cerita bersambung) Ketika Hari Itu Tiba melainkan aku mau berbagi cerita pengalamanku. Berdagang Sejak Dini. Ya,seperti yang kalian tau judul postingan kali ini adalah Berdagang Sejak Dini. Aku bukan bermaksud untuk kasih tips-tips berdagang,tapi aku hanya ingin berbagi pengalaman bisnisku sedari kecil.
Kata orang tuaku,"bakat" bisnisku adalah bakat yang turun-temunurun dari Almh.Eyang Putriku. Almh.Eyang Putriku adalah pedagang yang cukup sukses pada masanya. Eyangku adalah pedagang yang ulet,karna beliau mengurus sendiri bisnisnya. Mulai dari perkebunan sampai penyembelihan ayam. Kebun Eyangku dirawatnya seorang diri,pagi-pagi naik bus umum dan pulang sekitar jam 17.00. Padahal kalau dipikir-pikir jarak rumah Eyang menuju kebunnya cukup jauh. Mungkin untuk pembaca yang kebetulan satu sekolah denganku,kebun eyangku berada di dekat sekolahku itu (daerah Gunungpati,Semarang) dan rumah eyangku di dekat Tugu Muda. Lumayan jauh bukan? Pernah ada suatu kejadian lucu yang sampai sekarang cerita ini masih aku ceritain ke temen-temen. Suatu hari Eyang menemukan burung kakak tua,diambil dan dirawat. Suatu ketika burung kakak tua itu menggigit jari Eyangku, kalian tau reaksi Eyangku seperti apa? Beliau menggigit burung kakak tua itu juga. Dan keesokan harinya,burung itu hilang. 

Oke,cukup pembahasan tentang eyangku,kembali ke topik. Sejak kecil aku telah menjadi pedagang. Sejak kelas 2 SD aku sudah mencicipi suka-duka berdagang.  Apapun aku jual,mulai dari roti bakar,pisang karamel,stik es krim yang diberi gambar lalu dimainkan (permainan yang biasanya dimaikan Upin & Ipin),minuman-minuman (seperti Pop Ice,Marimas,Segar Sari,Teh Sisri,dsb),kaos,sepatu,kerudung,dan terakhir pulsa. Apa semua berhasil? Beberapa bisa dianggap berhasil dan beberapa ku kategorikan gagal.
Oke,aku mau bahas yang kategori gagal. Pertama kali yang aku anggap gagal adalah stik es krim. Alasannya simpel,karena aku kehabisan stok stik es krim dan semenjak banyak peminat permainan itu,pedagang-pedagang mainan dimanapun ia berada pasti menjual itu dan gambarnya lebih keren dibanding gambarku. Mental persainganku disitu belum terbangun. Sebenarnya ini tidak bisa dijadikan alasan sih,karena seharusnya aku berjuang mencari ide kreasiku sendiri. Ini aku alami ketika kelas 4 SD. Kedua yang masuk kategori gagal adalah minuman. Alasannya sama-sama simpelnya,aku dan temanku (aku jualan berdua) gak punya blender dan mengakibatkan rasa minumannya kurang enak,jadinya gak ada pelanggan. Kita bosen dan bubar. Hahaha,bocah :'). Ini juga aku alami ketika kelas 4 SD.
Oke lanjut,yang ketiga adalah kaos,kerudung,dan sepatu. Aku jadiin satu karna aku jualannya disatu waktu yaitu ketika aku kelas 3 SMP. Waktu itu baru booming-boomingnya jualan online alias online shop atau lebih dikenal dengan sebutan olshop,aku berminat mencoba jualan kaos,kerudung,dan sepatu. Aku mulai tawarin ke temen-temen sekolah,temen-temen sosial media,guru,dan minta bantuan orang tua buat promosiin ke temen-temen kantornya. Dan aku sukses pada awalnya dan gagal pada akhirnya. Alasannya karna aku bosen. Aku udah males buat promosiin,aku udah males buat update,aku udah males buat nanggepin pelanggan,dan lain-lain. Selain itu,untuk harga segitu pada jaman segitu (aku SMP) uang saku temen-temen gak cukup buat beli barang daganganku. Alhasil temen-temen sekitarku gak ada yang beli. Sekarang 95.000 untuk beli kaos pasti mereka beli,dulu kaos harga 60.000 aja mikir-mikir karena pasti gak dibolehin orang tua untuk beli online shop dikarenakan banyak kejadian penipuan. Banyak alasan memang aku ini,karena pada dasarnya orang gagal selalu punya alasan agar tidak dianggap terlalu gagal.

Oke,sekarang masuk kategori yang bisa dianggap sukses. Yang pertama,jualan roti bakar dan pisang karamel. Dan ini terjadi ketika aku kelas 2 SD. Unforgettable moment banget. Awalnya Ibu cuma kasih bekal ke aku roti bakar sama pisang karamel dan pada saat itu baru suka-sukanya sama jajan. Ya namanya anak segitu,dikasih bekal ya lebih milih jajan. Aku jual tuh roti bakar sama pisang karamelnya ke temen-temen uangnya aku pake jajan. Ide bagus? Sangat. Akhirnya,aku tawarin ke temen-temen “Besok mau lagi gak? Kalo mau tulis nama sama berapa pesenanmu,besok tak bawain lagi” dan banyak yang nulis. Pagi-pagi Ibu rela bangun pagi buat bikinin pesenan itu,makasih Bu J. Dan emang dasar akunya,uangnya gak balik buat modal. Jadi,uangnya aku jadiin jajan,hehehe. Sudah 2 hari berlalu. Di hari ketiga,wali kelasku masih di kelas sewaktu istirahat berlangsung. Hari itu aku lebihin sedikit roti sama pisang karamelnya. Wali kelasku merhatiin aku jualan di kelas. Setelah kelas sepi,aku dipanggil sama beliau. Singkat ceritanya gini :

“Jualan apa ras?”
“Roti bakar sama pisang karamel”
“Tak njajal aku,pironan?” (Tak nyoba aku,berapa?)
“Roti bakarnya tiga ribu,pisang karamelnya lima ribu”

Beliau beli masing-masing dua. Bel masuk berbunyi. Wali kelasku berdiri di tengah kelas. Aku udah ada firasat,mau bahas tentang daganganku ini. Dan,ini yang adalah tanggapan beliau yang aku masih ingat sampai sekarang.

“Laras jualan roti bakar sama pisang karamel ya? Mbok ngene cah,opo gak ngisin-ngisini wong tuwamu? Bapakmu (aku) kan pegawai bank,ibu yo PNS,kok anake dodolan. Opo ora ngisin-ngisini? Sing liyane ojo ditiru yo,bapak ibu e pejabat kok malah jualan koyok ngene iki” (Laras jualan roti bakar sama pisang karamel ya? Gini,apa gak malu-maluin orang tuamu? Bapakmu (aku) kan pegawai bank,ibu ya PNS,kok anaknya jualan. Apa gak malu-maluin? Yang lain jangan ditiru ya,bapak ibunya pejabat kok malah jualan kayak gini)

Sesuai yang diajarkan orang tuaku,latihan berdagang itu hal yang bagus dan orang tuaku mendukung. Aku menjawabnya dengan penuh percaya diri.

“Bapak Ibu gak malu Bu,malah Ibu yang masak ini. Bapak Ibu malah suka saya jualan seperti ini kan sekalian latihan berbisnis”

Dan berakhir orang tuaku dipanggil wali kelas tersebut. Yang kedua,jualan pulsa. Ini adalah bisnis/dagangan tersukses versiku. Setelah menginjak jenjang SMA,aku pergi meninggalkan orang tuaku. Bukan,bukan niat mau jadi anak durhaka. Tapi,aku tinggal bersama teman-teman di asrama. Aku mulai mencari-cari celah bisnis di asrama ini dan bisnis yang tepat adalah jualan pulsa. Aku sudah pernah membantu kakak untuk berjualan pulsa. Jadi sudah lumayan mengerti tentang harga dan cara penjualan pulsa. Kali ini yang membantu giliran Bapak dan Kakakku. Bapak yang memberi modal,kakak yang mengisi saldo jualanku. Sampai akhirnya,operatornya susah dihubungi dan tidak pernah menanggapi laporan transfer isi saldoku. Alhasil,bisnis berhenti sementara.


Oke,sekian cerita-cerita pengalaman berdagan sejak dini versiku. Ada yang punya pengalaman yang susah dilupakan? Yuk share cerita-ceritamu di blog milikmu. Kalau sudah,tulis di kolom komentar ya J Jangan lupa kritik dan sarannya. Terima kasih.

Dan.. This is my heroes. Yang dukung aku bisnis ini itu dan yang gak bosen-bosennya ngasih tau ini itu tentang cara-cara bisnis. 


0 komentar: